PANTI WERDHA “ST. YOSEPH” KEDIRI
Diposting tanggal: 10 Agustus 2017

SEJARAH SINGKAT PANTI WERDHA “ST. YOSEPH” KEDIRI

 

 

Panti Werdha Santo Yoseph ini diresmikan Tanggal 10 Oktober 1965 yang dihadiri oleh Bapak Walikota Kediri R. Soedjono.  Suster Fernanda van Djik, Puteri Kasih Belanda adalah pengurus pertama. Beliau mendampingi para Lansia selama kurang lebih 15 tahun. Karena usia dan kesehatannya semakin menurun, beliau kembali ke Belanda dan menetap disana sampai akhir hayatnya.

Karya ini dilanjutkan oleh Suster Puteri Kasih Indonesia. Pada awalnya Komunitas Santo Yoseph merupakan Annex Komunitas St. Louisa di Jalan Brawijaya. Para Suster setiap makan siang, makan malam dan rekreasi bergabung ke Komunitas Santa Louisa di Jalan Brawijaya dan berkumpul bersama para Suster lain. Setelah terlihat mandiri, tanggal 19 Maret 1992, Panti Werdha Santo Yoseph diresmikan menjadi Komunitas lokal dengan Suster Agnes Coffa sebagai Suster Abdi yang pertama. Karya Panti Werdha St. Yoseph berada dibawah naungan Yayasan Santa Louisa yang berpusat di Jalan Brawijaya 63 Kediri, di mana Suster Puteri Kasih berkarya.

 

Awal mula Panti Werdha

 

Melihat kebutuhan sosial ekonomi masyarakat yang pada waktu itu begitu minim dan situasi politik sedang kacau dengan adanya Peristiwa G/30S/PKI. Sr. Fernanda tergerak untuk melihat, serta memikirkan nasib orang-orang tua yang tidak terpelihara dan yang diterlantarkan oleh keluarga dan yang hidup sendiri, tidak mendapatkan perhatian dari keluarga dan masyarakat. Maka sejak saat itu Sr. Fernanda mulai menerima dan menampung serta memberikan pelayanan kepada mereka. Mereka ditampung dan tinggal di Panti Werdha Santo Yoseph, agar dalam sisa hidupnya, mereka mendapatkan ketenangan dan ketentraman hati, selalu gembira karena merasa dikasihi dan dicintai. Pada awalnya hanya 5 orang lansia saja, kemudian semakin banyak orang miskin yang terlantar yang tidak terawat masa tuanya. Akhirnya mereka tinggal di Panti Werdha Santo Yoseph ini. Semakin lama semakin banyak jumlah lansia yang dilayani.

Para Suster bersama para karyawan, berusaha mendampingi dan merawat mereka dengan sebaik-baiknya. Bila mereka sakit, diberi obat dan bila sakitnya berat, kami merujuk ke rumah sakit, dan mengundang Romo untuk memberikan Sakramen Tobat dan Sakramen Perminyakan, bagi lansia yang beragama Katolik. Pada masa kepemimpinan Dokter Kent di Rumah Sakit Bhayangkara, Sr. Fernanda sudah menjalin hubungan yang baik dengan pihak rumah sakit. Dokter Kent selalu memberikan prioritas pengobatan dan perawatan bagi para lansia dan para Suster yang bertugas di Panti Werdha.

Panti Werdha Santo Yoseph, benar-benar mempersiapkan para lansia agar mereka sungguh-sungguh mampu bersyukur dan berpasrah, sehingga tidak takut menghadapi kematian yang sewaktu-waktu akan datang menjemput mereka.

 

Tahun 1972, bangunan Panti Werdha diperluas yang sekaligus dapat menampung sebanyak 30 Iansia. Gedung yang sekarang adalah bukan gedung asli seperti waktu Panti Werdha Santo Yoseph berdiri. Karena gedung lama sudah tua dan kurang memenuhi syarat, tahun 1977 gedung lama dibongkar total, untuk sementara para lansia mengungsi ke gedung bekas seminari CM (sekarang SDK Santo Yoseph), sedangkan untuk makan para lansia dikirim dan Panti Werdha, situasi ¡ni cukup merepotkan Setelah gedung baru selesaj para lansia menempati gedung tersebut dengan aman dan nyaman hingga saat ini. ÿÿÿ