Jumat, 12 Agustus 2016 - 09:18:40 WIB
Benang Merah Misi Vinsensian
Diposting oleh : Kaji Zoe
Kategori: Inspirasi - Dibaca: 962 kali

Benang  Merah  Misi Vinsensian

(Dari Majalah “Echos”, Edisi Mei – Juni 2015)

(Diterjemahkan oleh Tim Gema Komunitas)

"Keseluruhan kerangka Vinsensian" adalah semacam "benang merah", yang memberikan kesatuan dan konsistensi untuk misi Vinsensian. Kita menghadapi resiko bahwa spiritualitas Vinsensian kita secara khusus dapat menjadi seperti air yang disiramkan dan kehilangan vitalitasnya karena kita hanya salah satu di antara berbagai kelompok dan spiritualitas dalam Gereja. Itulah sebabnya kita harus sadar akan "benang merah" yang menunjukkan dan menghubungkan setiap ekspresi dari misi Vinsensian.

Anda  tidak  harus  melihat  jauh  untuk  menemukan  benang  merah  ini.

Setiap Puteri Kasih dapat menemukannya secara sempurna dalam Konstitusi: "Bagi para Puteri Kasih, melayani Yesus dalam orang miskin merupakan tindakan kasih, kasih afektif dan efektif. Kasih itulah yang menuntun seluruh hidup mereka dan merupakan perwujudan utama dari “status cinta kasih”. (K.

24a).

Benang merah ini adalah "struktur diakonal" karisma Vinsensian. Saya mengacu pada kasih, pelayanan kasih, misi kasih, diakonia dalam arti etimologisnya.

Setiap  tindakan, pemikiran dan wawasan dari Vinsensius  de  Paul dan

Louisa de Marillac menggambarkan motivasinya, potensi dan fokus dari kasih sebagai misi dan misi sebagai kasih, di mana tindakan itu mengalir. Mereka terus menerus menyarankan kepada Kongregasi Misi dan Puteri Kasih untuk hidup dalam "kasih". Selanjutnya, kesempurnaan Kristani yang mereka harapkan dari para pengikutnya adalah bercita-cita untuk "kesempurnaan kasih".

Vinsensius de Paul menggabungkan cinta afektif dan cinta yang efektif seperti dua sisi yang menyatu, sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan dari kasih dan misi (Bdk CCD IX, 466, 467-468, 470-471). Dia mengingatkan bahwa cinta afektif tanpa tindakan yang efektif - atau kasih tanpa misi - adalah, bohong, seperti yang dikatakannya: "Marilah kita mengasihi Allah, marilah kita mengasihi Allah, dengan segenap kekuatan tangan dan keringat kita; untuk setiap tindakan kasih Allah, pengabdian, dan kasih serta perbuatan dari hati yang lembut, meskipun sangat baik dan sangat diperlukan, bagaimanapun, menjadi tidak baik jika mereka tidak diwujudkan ke dalam tindakan cinta yang efektif ... Kita harus sangat berhati-hati tentang hal itu; karena ada banyak orang yang dengan kepala dingin, dan penuh dengan keangkuhan, berhenti di situ, dan saat mereka harus melakukan sesuatu, dan mereka memiliki kesempatan untuk bertindak, mereka lupa diri. Mereka menyanjung diri dengan ide-ide baik mereka; mereka puas dengan percakapan indah yang mereka lakukan bersama Allah dalam meditasi dan bahkan berbicara tentang mereka seperti malaikat; tetapi ketika mereka berada di sana, jika ada pertanyaan tentang bekerja bagi Allah, penderitaan, mati raga, pengajaran kepada orang miskin, pergi mencari domba yang hilang ... sayangnya! mereka tidak lagi ada di sana; mereka tidak memiliki keberanian. Tidak, tidak, jangan membodohi diri sendiri: Totum opus nostrum in operatione consistit [semua pekerjaan kita adalah tindakan nyata] "(CCD, XI, 32-33).

Kita dapat mengatakan, bahwa karisma Vinsensian seperti api menyala

yang tidak dapat dipadamkan: api kasih yang mendorong kita dan membuat kita terbakar untuk melaksanakan misi. Jika kita tidak menghidupi dimensi diakonal dari karisma Vinsensian ini, satu kesatuan tak terpisahkan dari kasih dan misi, kita menghadapi resiko jatuh ke dalam spiritualisme, yang menyebabkan kita kehilangan identitas kita dan membuang-buang waktu dan energi kita.

Father Celestino FERNÁNDEZ, C.M.

 




0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)